TULISAN masihwan

tanggon kosala ini adalah saksi bagi awal baktimu

Anak Tidak Mau Sekolah, Kenapa ?

Program konsultasi Psikologi edisi Senin (8/2) bersama Psikolog dari Griya Medika Batam, Dinuriza Lauzi, M.Psi membahas tentang mengenali penyebab anak tidak mau bersekolah. Menurutnya yang menjadikan anak tidak mau sekolah disebabkan banyak faktor, di antaranya akibat kehadiran guru yang tidak disukai, teman-temannya yang jahat dan
pelajaran yang membosankan. Meski demikian, permasalahan tersebut secara langsung berkaitan dengan kemampuan guru dan orang tua mendorong anak-anak terus bersemangat bersekolah.

“Macam-macam sekali menjadi penyebab keenganan anak-anak untuk bersekolah dan ini berkaitan sampai sejauh mana semangat anak-anak terus dimotivasi bersekolah,” katanya.

Dijelaskannya, para orang tua dan guru perlu mengajari anak-anak bersosialisasi dengan lingkungan barunya agar anak-anak termotivasi bersekolah. Sikap yang ditanamkan pada saat awal bersekolah adalah anak-anak perlu dilatih menyikapi dan disikapi berbagai tingkah laku berbeda dari teman-temannya.

“Saat awal anak itu terkesima menemui teman-temannya yang bisa main bermacam-macam seperti play station bahkan ketemu dengan yang hanya bisa bermain pasir. Berbagai kondisi yang variatif ini membuat mata anak terbuka bahwa dunia itu tidak hanya rumah tapi ada orang lain. Ketika anak berkeinginan berteman dengan seseorang ternyata ditolak, hal ini juga mempengaruhi konsep diri anak dikemudian hari termasuk keengganan bersekolah,” jelasnya.

Menurut psikolog yang akrab dengan panggilan mbak Nisa ini, ketika anak disikapi dengan tingkah laku tersebut dia akan berpikir ketika berada di rumah dia selalu di ajak bermain apapun, tapi justru bertolak belakang saat dia berada di sekolah.

Pola asuh orang tua kepada anak secara langsung juga mempengaruhi pola pikir anak-anak. Seperti terjadi pada anak pemalu disebabkan keluarganya jarang berinteraksi, ketika diajak temannya untuk bermain dan anak tidak bisa menyesuaikannya, akhirnya anak mengalami kebingungan penyesuaian diri.

“Pada saat anak mengalami kebingungan penyesuaian diri, pada saat itulah konsep diri anak terbentuk,” katanya.

Orang tua juga harus peduli saat anak-anak menginjak usia kritis, yakni saat berusia dua tahun untuk menanamkan sikap agar anak-anak memiliki penyesuaian yang baik saat memasuki lingkungan baru seperti di sekolah.

“Pertama orang tua bisa mengajari anak untuk bersikap saling berbagi dan menghargai. Seperti saat dia bermain sendiri, anak diajari untuk berbagi ke keluarganya, sehingga anak mempunyai konsep untuk saling menghargai orang lain. Yang kedua orang tua mengajari anak untuk bersosialisasi dengan orang lain di luar rumah. Tentunya anak seusia dengannya dengan bimbingan orang tua,” katanya.

Menjawab Anto bertanya tentang cara memberi semangat anak untuk belajar, mbak Nisa menjawab yang perlu diketahui lebih awal adalah mencari penyebab menjadikan anak-anak tidak bersemangat untuk belajar. Misalnya ketika di ketahui anak saat malas mempelajari matematika disebabkan karena guru yang terlalu tegas, maka orang tua berinisiatif menjadi guru Matematika bagi anak saat berada di rumah.

Intan bertanya tentang kesulitan anaknya menerima mata pelajaran tertentu di sekolah, mbak Nisa menjawab hal tersebut boleh jadi disebabkan dengan minat anak untuk belajar. Orang tua menurutnya diharapkan mencari media lebih kreatif, misalnya anak-anak yang hobi jalan-jalan tidak suka mengenali huruf, pada saat jalan-jalan orang tua berinisiatif mengajarinya tentang huruf. (as)

10 Februari 2010 Posted by | Konsultasi Psikologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Mendidik Anak Mengapa Mesti Marah-Marah ?

“Mendidik anak bukan perkara yang mudah. Ini juga diakui oleh semua orang. Seringkali terjadi hal-hal yang tidak seusai dengan harapan, membuat orang tua frustasi. Dan merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik. Padahal tidak seburuk itu, cuman hanya saja tidak ditemukan komunikasi yang bisa dipahami
dari sudut pandang orang tua maupun sudut pandang anak,” kata Psikolog Dinuriza Lauzi, M.Psi dari Klinik Spesialis Griya Medika Batam dalam Program Konsultasi Psikologi bersama Mbak Nissa edisi Senin (25/01) pukul 14.00 – 15.00 wib. Topik yang diangkat adalah “Bagaimana berkomunikasi dengan anak”.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa hubungan tidak romantis antara anak dan orang tua disebabkan beberapa hal. Diantaranya adalah harapan orang tua terlalu sempurna terhadap anak. Sehingga tanpa disadari orang tua terlalu memaksakan keinginannya sampai terjadi gesekan-gesekan dengan anak.

“Tentu saja pengalaman orang tua tidak bisa disamakan dengan pengalaman anak. Pengalaman anak yang digabungkan pengalaman orang tua, bisa dijadikan harapan yang terbaik bagi anak bukan harapan yang terbaik bagi orang tua. Sementara anak sendiri adalah manusia individu unik yang punya akal, pikiran dan jiwanya sendiri,” katanya.

Menurutnya penyebab yang mempersulit komunikasi dengan anak juga disebabkan faktor orang tua yang tidak konsisten. Sikap ini misalnya pada saat orang tua meminta anaknya tidak menonton televisi dan harus belajar, sebaiknya orang tua juga tidak menonton televisi saat anak belajar. Sama halnya ketika orang tua melarang anaknya merokok, tapi orang tuanya sendiri merokok.

“Seringkali orang tua tidak konsisten dengan yang dia minta, jadi ketika tidak konsisten gimana orang mau mengikutinya. Anak sendiri mempunyai pikiran seperti itu tidak hanya pada orang dewasa. Anak terutama usia balita dia biasanya pada saat itu masa meniru. Biasanya yang paling dekat adalah orang tua. Yang dimiliki orang tua akan diikuti Anak. Misalnya pada saat orang tua marah sampai keluar kata semuanya kebun bintang, akhirnya ketika anak kesal pada suatu saat dia juga akan mengeluarkan ekspresi yang sama,” tambahnya.

Dijelaskannya, ketika mendapat anugerah menjadi orang tua memang tidak mudah melakukannya. Tapi semestinya ketika mendapat anugerah seorang anak, orang tua harus belajar untuk siap meskipun tidak sempurna. Dalam hal ini setidaknya bisa mengarahkan kepada jalur sesuai yang diharapkan orang tua.

Faktor yang membuat terjadinya pergesekan antara anak dan orang tua adalah orang tua yang hanya bisa mengatakannya dan memarahinya tanpa pernah menunjukkan cara dan konsep yang dimaksud orang tua. Misalnya pada saat orang tua meminta anaknya membereskan tempat tidur, tapi orang tua tidak pernah mengajarkan cara membersihkan tempat tidur. Contoh yang lain ketika orang tua meminta anaknya makan dengan sopan, padahal anak sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan sopan tersebut.

Kenakalan anak juga terjadi akibat reaksi orang tua yang seringkali berlebihan atau tidak mempedulikannya sampai membuat kelakuan dan prilaku anak itu tidak menjadi lebih baik seperti yang diharapkan orang tua.

“Pada saat ingin menanamkan figur-figur atau sikap tertentu yang harus sopan atau menghormati, orang tua juga harus menunjukkan esensinya. Atau menunjukkan pemahaman yang bisa dimengerti anak dan tidak mengada-ada. Kadang-kadang reaksi orang tua kalau sudah capek dia pikir ah biarkan saja,” ujarnya.

Psikolog dari Griya Medika Batam ini menambahkan, orang tua juga harus bisa memberikan pilihan pada anak tanpa memaksakan kehendak denganya. Seperti saat anak memanjat eskalator, orang tua bisa memberikan pilihan kepada anak. Orang tua memberikan bujukan tanpa memaksakan kehendak terhadap anak.

“Orang tua kasih pilihan kepada anaknya yang ingin memanjat eskalator. Kamu mau jatuh kebawah atau sama mama, mama pegangin turun sama-sama. Kalau jatuh kebawah sakit nanti dan bisa patah kakinya.Enak sama mama disini tidak patah kakinya. Intinya disini tidak memaksakan kepada anak,” jelasnya. (as)

28 Januari 2010 Posted by | Konsultasi Psikologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Konflik Dengan Mertua dan Cara Mengatasinya

Program konsultasi Psikologi edisi Senin (11/01) bersama psikolog dari Griya Medika Batam, Dinuriza Lauzi, M.Psi membahas tentang “Mengatasi Konflik Dengan Mertua.” Menurutnya konflik dengan mertua disebabkan beberapa faktor, diantaranya dari pasangan menantu itu sendiri dan dari mertua. Dari sudut pandang mertua biasanya yang kerap terjadi masalah karena ia
beranggapan, orang tua masih mempunyai hak untuk mengurus rumah tangga anaknya.

“Orang tua beranggapan ia berhak mencampuri urusan rumah tangga anaknya atau menantunya. Untuk melihat sejauhmana keputusan dalam rumah tangga itu sempurna atau efektif. Tetapi ternyata ketika dia menemukan keputusan rumah tangga itu tidak cocok atau tidak pas, sehingga dia turut campur dengan mengatakan seharusnya begini dan begini,” katanya.

Penyebab lainnya yang biasa menimbulkan konflik adalah orang tua merasa memiliki jasa dalam mendewasakan anak dari segi pendidikan dan sebagainya. Namun saat ketika anaknya menikah hingga mulai terjadi jarak dalam kehidupannya, sehingga orang tua merasa berhak menerima balasan dari jasa yang telah ia berikan.

“Orang tua biasanya merasa takut kehilangan perannya selaku orang tua. Biasanya misalnya anaknya seorang perempuan yang biasa disayangi yang kemudian menikah, dia merasa menantunya mengambil perannya. Dia merasa tidak memilik figur yang disayangi lagi. Dia takut anak-anaknya kurang peduli terhadapnya,”tambahnya.

Menurut psikolog yang akrab dengan panggilan mbak Nisa, Faktor konflik yang terjadi diakibatkan dari menantu itu sendiri terkait dengan personality dan cara pandang menantunya. Misalnya dia menganggap urusannya hanya kepada suaminya atau istrinya dan tidak berhubungan dengan iparnya atau dengan orang tuanya.

Konflik juga terjadi diakibatkan faktor suami atau istri, misalnya dia tidak mampu menampilkan sesuai dengan perannya sebagai istri seperti terjadi terhadap wanita karir yang tidak memiliki anak. Konflik muncul saat keluarganya terus mendorongnya memiliki anak, hingga terus terjadi pertentangan atau pertengkaran antar kedua pihak.

Gesekan juga terjadi dari pihak suami. Misalnya si suami menikah dengan perempuan anak orang kaya. Sementara si suami tidak bisa memberikan kemapanan secara finansial, sehingga ia merasa dari pihak keluarga istrinya merendahkan dirinya.

“Hal-hal seperti inilah yang kadang-kadang menjadi gesekan. Biasanya adalah personality atau cara pandang menantu itu sendiri mempengaruhi tingkat interaksi mertua dengan menantu yang terus berkembang menjadi problem,” ujar mbak Nisa.

Dia menjelaskan konflik-konflik berat itu awalnya kadang-kadang berasal dari masalah kecil, misalnya ketidakcocokan kebiasan orang tua tersebut dari kehidupan sehari-hari seperti tentang masakan. Problem tersebut jika tidak segera di komunikasikan dengan baik antar kedua pihak, membuat terjadinya konflik berat yang berujung dengan perceraian.

“Satu hal yang perlu ditanamkan pada saat berumah tangga sebagai menantu, yang ditanamkan adalah saat menikah secara langsung menikahi keluarga besarnya. Jangan berpikir kalau menikah sama si suami atau si istri sehingga merasa tidak ada urusan dengan lainnya. Jadi, mulailah berpikir bahwa ketika menikah tidak hanya satu keluarga tapi juga terhadap keluarga besarnya,” katanya.

Sementara untuk melanggengkan kehidupan rumah tangga, sebaiknya jika selama ini tinggal serumah dengan mertua sebaiknya mencari cara untuk keluar dari rumah mertua. sedangkan agar komunikasi berjalan baik dengan mertua dan keluarganya, tidak ada salahnya mencari tahu kesukaan mertua dan mencari tahu bagaimana mereka menyukainya, sehingga mertua dan keluarganya beranggapan anda respect dengan mereka.

“Intinya kita harus mempersiapkan mental dan juga segala selalu berpikir ketika membina rumah tangga itu harus memulai dari segala sesuatu dengan mandiri. Yang akan di contoh oleh anak-anak. Selain itu yang penting dilakukan adalah jika ada suatu hal segera bicarakan dengan pasangan anda, untuk mengkomunikasikan permasalahan tersebut dengan keluarganya,” jelasnya.(as)

11 Januari 2010 Posted by | Konsultasi Psikologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Gagal Wawancara Kerja? Siapa Takut !

Program konsultasi psikologi edisi Senin (21/12) bersama psikolog dari Griya Medika Batam, Dinuriza Lauzi, M.Psi membahas tentang “Kenapa Mesti Takut Gagal pada Wawancara Kerja.” Menurutnya orang yang gagal dalam wawancara kerja, kerap menganggap tidak lulusnya disebabkan karena pewancara yang subyektif. Selain itu, mereka juga beranggapan pewancara
dibayar untuk menerima seseorang, karena mereka menganggap telah memenuhi kualifikasi dibandingkan dengan orang lain.

“Sering kali karena orang itu merasa lebih qualified tapi tidak diterima, akhirnya kemudian menyimpulkan sendiri dengan menyalahkan pihak lain yang terkait hal itu. Jadi apa penyebabnya, sebenarnya perusahaan melakukan pemeriksaan psikologis, tentunya perusahaan mempunyai kualifikasi sendiri. Perusahaan dalam hal ini ingin mengetahui sampai sejauh mana tingkat kemampuan dari karyawan itu. Agar perusahaan mendapatkan the right man the right place. Dengan tujuan mendapatkan kecocokan dalam syarat untuk jobdescriptionnya,” katanya.

Dia mencontohkan seperti halnya menjadi penyiar radio, perusahaan tidak hanya membutuhkan seorang yang good voice. Perusahaan juga memiliki ketentuan lain seperti kemampuan menganalisa, membaca berita dan wawasan yang luas. Sama halnya dengan marketing, perusahaan memiliki persyaratan tertentu seperti kemampuan berbicara verbal yang baik dan mampu membawakan diri dalam keadaan tertentu.

“Syarat-syarat seperti itulah yang kemudian harus disesuaikan oleh psikolog atau tim rekruitmant. Sehingga pada saat seleksi, sudah bisa menentukan calon yang cocok,” tambahnya.

Menurut psikolog yang akrab dengan panggilan mbak Nisa, bagi yang sering gagal mengikuti wawancara akhirnya memahami test tersebut sama seperti ujian di sekolah, yang memerlukan waktu belajar lebih banyak. Idealnya yang dipersiapkan adalah persiapan fisik dan mental dengan baik.

Selain itu, untuk seorang pelamar diminta jujur untuk mengerjakan soal test. Karena pada saat test-test yang lainnya atau wawancara akan terlihat sikap yang tidak konsisten, yang tentunya menjadi pertimbangan tersendiri oleh psikolog atau tim rekruitment.

“Intinya harus jujur, jadilah diri anda sendiri pada saat mengikuti test. Kemudian jangan merasa anda berharap pekerjaan tersebut, lantas memanifulasi profile yang dimiliki. Karena itu mencerminkan diri anda sendiri. Lebih lanjut selain berdoa, si calon harus bisa mengevaluasi. Pahitnya jika tidak diterima, harus bisa untuk berbesar hati dengan keputusan tersebut,” pungkasnya. (as)

24 Desember 2009 Posted by | Konsultasi Psikologi | Tinggalkan sebuah Komentar

Tidak Percaya Diri dan Solusinya

“Setiap orang sedikit atau banyak pernah merasakan perasaan minder atau kurang percaya diri. Hal ini terjadi misalnya di tengah suatu kondisi yang baru. Kondisi itu tidak pernah dia rasakan sebelumnya.” jelas Psikolog Dinuriza Lauzi, M.Psi dari Klinik Spesialis Griya Medika Batam dalam Program Konsultasi Psikologi bersama Mbak Nissa edisi Senin
(14/12) pukul 14.00 – 15.00 wib. Topik yang diangkat adalah ‘Tidak Percaya Diri dan Solusinya’. Lebih lanjut dia menjelaskan tidak percaya diri itu terjadi ditengah-tengah lingkungan yang asing bagi seseorang. Lingkungan itu cenderung menimbulkan sensasi tersendiri. Sensasi adalah sensasi fisik yang kemudian menimbulkan perasaan kurang percaya diri atau minder.

“Ini semua bisa dicegah apabila orang tersebut merubah rasa keterasingannya dengan lingkungan baru ini menjadi sebuah tantangan baru yang perlu dihadapi. Karena apa, kalau kita bicara tentang percaya diri ini sewaktu-waktu kita merasakan sangat percaya diri tapi mungkin kemudian lima menit sudah menjadi tidak percaya diri. Ada saja sesuatu pencetusnya, mungkin ada suatu perkataan seseorang yang membuat kita down. Atau lingkungan baru yang membuat kita disatu sisi percaya kemudian disisi lainnya membuat minder,” jelasnya.

Menurutnya tidak percaya diri itu dipengaruhi beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi minder. Ketidakpercayaan diri muncul ketika dia memiliki memiliki konsep diri yang rendah atau pengalaman tidak menyenangkan masa lalunya. Misalnya seseorang yang pernah memiliki nama jelek. Namanya misalnya Malingka yang kemudian dipanggil temannya Maling yang akhirnya membuat dia kesal dan membuat ia tidak percaya diri ketika berkenalan. Termasuk juga masalah fisik seperti hidungnya kurang mancung atau kulitnya kurang putih yang biasanya terjadi dengan remaja.

“Adanya penanaman persepsi atau pola pikir yang terus-terusan sehingga membuat seseorang secara mental menjadikan perasaan minder suatu yang habit yaitu kebiasaan. Yang akhirnya kebiasaan itu menjadi suatu sikap. Ini semua berlangsung dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu proses inilah yang perlu dihentikan”, Katanya.

Menjawab pertanyaan Nely di facebook, yang menanyakan perasaan ketakutan itu apakah ada hubungannya dengan percaya diri? Contohnya ketika ia sama keluarganya didorong belajar menyetir mobil tapi ketika melihat kendaraan ia menjadi takut sampai keluar keringat dingin dan sakit perut. Kemudian pada saat ia tidak ketemu mobil ia menjadi tenang. Menurut mbak Nissa rasa tidak percaya diri itu mencakup banyak hal. Tidak hanya saat ketemu orang tapi juga pada saat situasi yang asing. Misalnya Nely ini, Ia sebelumnya hanya menjadi penumpang kemudian beranjak menjadi pengemudi. Ini suatu kondisi baru yang membuat dia yakin tidak memiliki kemampuan hingga tidak percaya diri.

Terus kenapa dia sampai sakit perut, mbak Nissa menjawab ini merupakan faktor psikososmatis yang merupakan efek-efek psikologis yang masuk ke tubuh. Seperti orang yang sakit maag atau migrain merupakan salah satu orang memiliki faktor psikologis tertentu yang terganggu. Beban psikologis itu kemudian berpindah ke fisik yang juga di atur melalui metabolisme tubuh.

Menjawab pertanyaan lainnya, yang menyebutkan ia takut dengan sesuatu seperti takut akan hantu dan takut dengan kecoa atau cicak kemudian bagaimana cara menghilangkannya? Mbak Nisa menjelaskan masalah phobia itu tidak dengan sebentar proses menghilangkannya. Jika ketakutan tersebut sebagai tameng diri, itu sebuah hal yang wajar bagi manusia untuk membela diri. Lain halnya jika ketakutan tersebut terhadap bintang yang imut-imut seperti kelinci, hal ini patut dipertanyakan.

Psikolog dari Griya Medika ini menambahkan bagi yang takut dengan kelinci misalnya. Dia harus belajar bagaimana menghadapi kelinci tersebut. Dia diawali dengan menghadapi kelinci dengan bentuk gambar. Kemudian ditingkat dengan lebih dekat seperti piring dengan bentuk kelinci atau gelas. Sesudah itu di tingkatkan dengan boneka kelinci terus baru kemudian kelinci benaran. Selain itu perlu di cari tahu penyebab yang membuat dia takut dengan kelinci tersebut. (as)

18 Desember 2009 Posted by | Konsultasi Psikologi | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.