TULISAN masihwan

tanggon kosala ini adalah saksi bagi awal baktimu

“Kita Punya Harga Diri, Kebijakan Tak Boleh Diintervensi”

“Saya rasa kita harus punya harga diri. Ok, kita punya kerjasama hubungan ekonomi dengan negara tertentu (red: China). Tapi kalo mengintervensi kebijakan-kebijakan lain, itu terlalu berlebihan. Akan menjadi preseden buruk, apalagi jika nanti hukum Indonesia akan melegitimasi upaya intervensi seperti ini,” kata Ignatius
Haryanto, Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) kepada Radio Erabaru di kantornya kawasan Pejompongan, Jakarta, Senin (15/3) siang.

Menurutnya adanya kerjasama antar negara tidak dibenarkan jika turut mengintervensi kebijakan-kebijakan dari negara yang bersangkutan. Terhadap upaya intervensi rejim pemerintah partai komunis China terhadap Radio Erabaru saat ini, ia menilai bahwa tidak pantas sebuah negara lain mengintervensi sebuah radio lain di negara lain, yakni di Indonesia. Apalagi sampai meminta menutup radio tersebut. Jika kasus-kasus seperti yang dialami Radio Erabaru ini dibiarkan dan memberikan legitimasi terhadap upaya-upaya intervensi, maka akan menjadi preseden buruk. Selanjutnya akan membuka kesempatan intervensi dari pihak-pihak lain.

LSPP menilai bahwa hal ini menyangkut kebebasan informasi dan berekspresi. Masyarakat berhak menerima dan mengakses berbagai versi informasi. Tidak diperkenankan adanya upaya-upaya membelenggu dan membungkam informasi.

Ignatius Haryanto, Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)

“Kita tidak ingin ada upaya-upaya untuk membelenggu dan membungkam informasi yang ada. Tidak jamannya lagi pada masa kebebasan informasi seperti saat ini. Biarlah masyarakat yang menimbang informasi-informasi itu layak dipercaya atau tidak,” kata Direktur sekaligus pendiri lembaga nirlaba ini.

Untuk informasi, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan di Jakarta pada tahun 1994. Berkembang menjadi salah satu organisasi lembaga swadaya masyarakat yang terbagi atas beberapa divisi kerja.

Khusus untuk bidang media, LSPP memfokuskan perhatian pada pemberdayaan masyarakat media, yakni para wartawan, mahasiswa dan dosen, serta masyarakat umum lain yang berminat dengan persoalan media, budaya dan hak-hak asasi manusia.

Lembaga ini mempunyai misi dan visi, memperlapang ruang publik yang ada bekerjasama dengan media yang ada atau memperjuangkannya lewat media yang telah ada. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan pelatihan wartawan, penelitian media, penerbitan, dan pendokumentasian literatur yang terkait dengan dunia media.

“Kita merasa ini bukan semata-mata dihadapi teman-teman Erabaru di Batam tapi akan mengancam pengelola-pengelola media di tempat lainnya. Jangan berkecil hati, saya yakin teman-teman di wilayah lain mendukung anda,” pungkasnya. (rp)

15 Maret 2010 Posted by | Kasus Hukum | Tinggalkan sebuah Komentar

Rumah Sakit Awal Bross Berikan Operasi Katarak Gratis

Rumah Sakit Awal Bross Batam bekerja sama dengan PT. Indosiar Visual Mandiri dan didukung oleh Pemerintah Kota Batam, menggelar aksi sosial berupa operasi mata katarak gratis, pada Senin (15/3) bertempat di Rumah Sakit Awal Bross Batam. Aksi sosial yang dilaksanakan selama dua hari ini dihadiri Wakil Walikota Batam, Ria Saptarika, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam,
Mawardi Badar serta Direktur Awal Bross Batam, Widya Putri. Sebanyak 400 lebih warga yang ikut mendaftar, hanya sekitar 160 orang yang hadir dalam pengobatan gratis ini. Rata-rata usia penderita sekitar 30 sampai 55 tahun. Ada juga tiga orang anak balita yang ikut aksi sosial ini.

Ria Saptarika mengatakan bahwa aksi sosialisasi ini sangat bermanfaat sekali terutama pada warga masyarakat yang kurang mampu. Dengan adanya aksi sosial ini bisa membantu meringankan beban mereka. Disamping itu juga untuk saling berbagi kebersamaan dengan saudara yang lainnya. Khusus bagi anak-anak akan diberikan hadiah.

Sementara itu Widya mengungkapkan bahwa aksi sosial ini merupakan agenda tahunan dari Rumah Sakit Awal Bross Batam.

“Sebelum aksi sosial ini digelar, kita telah mengadakan sosialisasi terlebih dahulu kepada warga selama 4 bulan ke puskesmas-puskesmas,” katanya.

Menurutnya rata-rata yang menderita penyakit katarak berusia di atas 60 tahun, namun seiring dengan perkembangan zaman bahkan sekarang ada yang menimpa balita dan orang dewasa, pemanasan global juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia terutama bagian mata.

Ani (37) salah seorang warga yang ikut aksi sosial ini mengaku sangat berterima kasih sekali dengan adanya kegiatan ini yang sangat membantu kesehatannya. Untuk saat ini memang penglihatannya sudah mulai berkurang terutama untuk malam hari.

“Aksi sosial seperti ini diharapkan terus akan berlangsung secara berkesinambungan untuk membantu program pemerintah, sekaligus untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Juga diharapkan agar masyarakat bisa menjaga kesehatan terutama dilingkungan sekitarnya,“ ujar Ria Saptarika. (ar)

15 Maret 2010 Posted by | Reportase | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.